Senin, 11 Desember 2017

Kisah Cinta Relawan SAR Hidayatullah, Terkenang Lagi Dikala Menembus Lokasi Banjir Bandang Wonogiri


WONOGIRI - Berbeda dari biasanya, tugas kebencanaan kali ini ditemani isteri tercinta. Medan yang ekstrim menembus hutan, menanjak dan menukik perbukitan tak menyurutkan tekadnya disaat dirinya tengah "berbadan dua".

Ada rasa tidak tega namun aku tak kuasa melarangnya, karena mungkin "gawan bayi" yang dikandungnya.

Kali ini kami yang tergabung di relawan Hidayatullah Peduli dari beberapa unsur yakni SAR Hidayatullah, BMH dan IMS membawa misi kemanusiaan membantu sesama yang tertimpa musibah banjir bandang dan longsor di perbukitan Hargosari, Tirtomoyo, Wonogiri.

Jalan yang terputus memaksa kami harus menyusuri jalan setapak yang licin dan curam menghantarkan bantuan untuk mereka yang membutuhkan.

Aku melihat istri tercinta menyeka keringat di keningnya, terlihat begitu letih namun tak terucap keluhan, penuh yakin tekat yang tak terhadang.

Terlintas kenangan 11 tahun yang silam. Disaat bumi Mataram terguncang, ribuan jiwa melayang dan bangunan-bangunan menjulang rontok berguguran.

Jogja-Jateng berduka, langit pekat menyelimuti, jeritan tangis dan rintihan jiwa yang terluka memenuhi suasana.

Sekitar 1 tahun saya bertugas di darah terdampak gempa Wedi-Gantiwarno Klaten Jawa tengah.

Berjibaku membantu masyarakat korban bencana dan menjaga Islam dari serbuan misionaris yang begitu gencar.

Namun, tantangan yang terberat selain itu semua adalah menjaga hati untuk selalu meluruskan niat dari pesona fitnah "virus merah jambu", bagaimana tidak, dari 20an relawan yang tergabung hanya 4 orang lelaki yang darah mudanya masih merah mendidih, bisa di bilang kami adalah primadona diantara bidadari... hehehehe.

Tiba-tiba di suatu sore HPku berdering. Aku lihat di layar tertera Ust. Suparmana memanggil, beliau adalah Mudir Pesantren Hidayatullah Solo yang mengirim kami bertugas di sini.

"Assalamualaikum" dari ujung telepon beliau menyapa.
"Waalaikum salam" jawabku
"Bagaimana kabarnya Hamim? Dan kabar relawan lainnya" sapa beliau lagi.

"Alhamdulillah kami semua baik Ustadz" jawabku mengabarkan.
"Program kegiatan berjalan lancar? Ada kendala?" tanya Ustadz.

"Alhamdulillah program berjalan lancar, kalaupun ada masalah Insyaallah saat ini masih bisa kami tangani, distribusi bantuan dari donatur masih berjalan, insyaallah aman Ustadz" jawabku menjelaskan dengan semangat.

"Alhamdulillah kalau begitu, tetap jaga ke ikhlas dan semangat, jaga kondisi juga. Jangan terlalu terforsir, istirahat yang cukup" pesan beliau menegaskan.
"Siap, insyaallah Ustadz.!" Ucapku sigap.

"Hamim..?" Panggil beliau tiba-tiba dengan nada mendalam.
"Na'am Ustadz" jawabku singkat penuh harap.
"Kamu sudah siap menikah?" tanya beliau singkat dengan suara yang tegas. Jreng...jreng..jreng..

Hampir-hampir HP yang ku pegang terlepas dari genggaman.

"E....e.... " tanganku bergetar.
"Saya manut saja Ustadz, sami'na wa ato'na" suaraku gugup penuh kepasrahan.

"Kalau kamu siap, besok pagi balik ke Solo dulu, nanti saya jelaskan" ucap beliau dengan suara tenang.

"Na'am Ustadz, insyaallah besuk pagi saya ke Solo" jawabku dengan pikiran yang melayang.

"Baik kalau begitu, sampai ketemu di Solo, salam buat teman-teman lainnya, Assalamualaikum" ucap beliau mengakhiri percakapan.

"Siap Ustadz, waalaikum salam " ku jawab salam dengan tangan masih bergetar.

Pagi-pagi sekali kupacu star buntut pinjaman donatur menuju Solo. Ada perasaan tak karuan yang menyelimuti, jantungku berdegup sekencang laju motor, yang tarikan maksimalnya 60 km/jam, meliuk menerobos kabut yang dingin.

Sesampainya di kampus Pesantren Hidayatullah Solo, kumantabkan langkah menghadap Mudir Pesantren, dengan santai beliau menyambut dengan secangkir teh hangat terhidang, seakan sebagai obat peredam ketegangan.

"Diminum dulu, mumpung masih hangat" Ucap beliau membuka percakapan.

"Njih Ustadz" tanpa banyak kata kusruput sedikit teh hangat yang terhidang.

"Begini Mim, saya ada calon, santriwati," terang beliau langsung tanpa basa-basi.

"Kalau kamu benar-benar siap nanti saya ta'aruf-kan" jelas beliau lagi.

Degub jantung yang menggedor-gedor tak bisa ku sembunyikan, bibirku bergetar.....

" E..e.. Bismillah Ustadz, insyaallah saya siap, mohon bimbingannya" rasa-rasanya seluruh tubuh lunglai karena grogi puncak tinggi.

"Alhamdulillah, kalau begitu siap-siap saja nanti malam kita berangkat ke Jogja untuk ta'aruf" suara beliau tenang meyakinkan.

"Nanti malam Ustadz..???" suaraku sedikit keras karena kaget.

"Ya malam ini, insyaallah" jawab beliau singkat.
"Jogja. Jogjanya mana Ustadz" selidikku penasaran.

"Saya belum tahu, nanti di-SMSkan rute dari sana, ya kita cari alamatnya" dengan santai beliau menjawab.

"Njih Ustadz, saya manut " pikiranku melayang penasaran.

Beberapa kali mobil yang kami tumpangi kesasar, setelah tanya sana sini akhirnya tiba di tempat tujuan yang dicari. Beberapa orang sudah menunggu dan menyambut kami dengan senyum keakraban.

Alhamdulillah proses ta'aruf lancar tanpa hambatan, kami di minta menunggu jawaban beberapa hari untuk saling beristikhoroh memantapkan pilihan.

Selang beberapa hari menunggu tibalah pesan jawaban datang, mengabarkan "lampu hijau" lanjut ke proses khitbah atau lamaran.

Tepat 5 hari setelah ta'aruf yang lalu, proses lamaran akan dilangsungkan, segala "ugo rampe" sudah dipersiapkan oleh pengasuh pesantren dan rekan-rekan lannya. Saya sendiri hanya diminta tenang tidak usah risau dengan urusan persiapan lamaran.

Saya sangat terharu dengan kebersamaan dan semangat kekeluargaan pengasuh dan warga pesantren. Subhanallah.

Tibalah saatnya proses khitbah dilaksanakan, tidak ada yang istimewa dari penampilanku saat itu, baju yang kupakai adalah seragam kepengasuhan, karena masih baru berapa minggu dibagikan dan baju paling terbaru yang kupunya.

Namun sebelum berangkat saya berpesan kepada pengasuh lainnya agar jangan memakai baju seragam yang sama agar tidak terlihat bahwa bajuku hanyalah baju seragam. Hehehehe.


Dengan penuh keakraban Alhamdulillah lamaran yang kami sampaikan diterima tanpa catatan, kemudian setelah berbasa-basi ringan, Ustadz Suparmana sebagai wakil dari keluarga saya menanyakan tentang jadwal hari akad nikah selanjutnya.

"Alhamdulillah... Terimakasih telah menerima lamaran kami untuk anak saya ini, selanjutnya pripun untuk jadwal hari akad nikahnya? Monggo kami manut saja, atau nanti menyusul infonya" Terang Ustadz Suparmana dengan senyuman.

"Alhamdulillah, untuk jadwal hari akad nikahnya, bagaimana kalau dilangsungkan saja malam ini" jawab sang calon mertua mengagetkan suasana.

Wow..... Saya yang dari tadi berusaha tenang tiba-tiba terperanjat kaget, degub jantung yang sudah mulai bisa kuatasi kembali berdegup kencang, sekujur tubuhku terasa ringan melayang.

Ustadz Suparmana menoleh kepadaku dengan sorot mata tanda tanya. Sambil tersenyum beliau menanyakan,

"Bagaimana mas Hamim..?"
" Bismillah..saya siap.!" Jawabku menegaskan tapi gugup tak bisa disembunyikan.

"Bagaimana, sah!? " Ucap Ustadz Suparmana dengan suara keras menanyakan.

"Sah..!!.." riuh gemuruh suara saksi dan semu yang hadir di situ.

Subhanallah wal hamdulillah Allahu Akbar......

Aku merasa seperti mimpi saja, semua terasa begitu mengalir, malam itu statusku berubah menjadi seorang suami dari perempuan yang baru kukenal, menanggalkan status " jomblo " diusia 22 tahun.

Hari berikutnya kulalui hidup berdua dengan isteri tercinta, kami melewati masa-masa "pacaran" di tempat tugas kebencanaan, tinggal di tenda pengungsian terasa seperti berkemah nan mengasyikkan.

Berlalu tahun istriku sudah terbiasa dengan irama kehidupan seorang suami relawan, pergi tugas jauh meninggalkan keluarga berhari-hari bahkan bulan. Alhamdulillah tak terasa 11 tahun berjalan kami dianugrahi 4½ kader biologis yang menyejukkan pandangan.

Maha besar Allah yang mengatur skenario kehidupan. Saya jadi tersenyum sendiri bila mengenang kisah masa-masa indah yang telah lalu. Terlalu indah untuk dikisahkan, sehingga tak cukup waktu menuliskan.

Bait syair "..... Tiada kisah paling indah.. kisah kasih di sekolah.." lantunan Obbie Messakh masih kalah bila dibanding dengan  tiada kisah paling sempurna... Kisah kasih di bencana " ... hehehehe.

Salam kompak dibagi rata!

Ahmad Hamim
Hargosari, 08/12/17

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review